Postingan

Sebuah Kiasan Tentang Kamu

Gambar
Hampir setiap malam, ketika kedua lampu kamar sudah dipadamkan, tirai lusuh hijau itu ku buka. Origami bangau yang tergantung tetap diam, tapi mataku sebaliknya. Mencari-cari sosokmu, dan bahagia ku seketika jika kau terlihat. Ku pandangi sosokmu dari sini. Cukup jauh memang, buram pula, tapi cukup bagiku. Kamu, berada di antara banyak kawanmu, namun terlihat paling terang. Aku yakin bukan sengajamu lakukan itu, tapi bagaimana lagi? Bahkan kau terlihat menjadi satu-satunya. Selalu ku perhatikan kamu, apalagi sebelum doa ingin tidur ku panjatkan dan akhirnya terlelap. Selalu ku perhatikan, dan selalu berharap kamu tetap di situ selalu. Agar setidaknya, ada satu yang setia menemani tidurku. Tak peduli musim atau tahun berganti, Aku hanya ingin kamu, tetap kamu yang di situ. Hai, bintang yang tak aku ketahui nama pun rasimu.

Bukan Awan #7 (Tamat)

        Aku diujung tebing menuju jurang kehancuran.         Tapi dia membuka suara.         “ Tapi, kalimat-kalimat manisnya beberapa bulan ini belum bisa menyaingi perasaanku tahun-tahun belakangan ini “ lanjutnya lagi. Dia menghela napas.           Tahun-tahun belakangan ini? Apa itu aku?           “ Aku menyukaimu “ kataku lantang walau aku sebenarnya masih bingung dengan pernyataan Bintang.           “ Iya, kamu udah bilang itu tadi “ jawabnya dengan tenang dengan mata yang masih memandang lurus ke taman, bukan lurus ke kedua mataku yang sedari tadi memadang lurus ke arahnya.           “ Dan kamu? “ aku melanjutkan kalimatku lagi.           Dia mengalihkan pandangannya dari ...

Bukan Awan #6

        “ Selamat pagi, Gilang “        Perempuan ini menyapaku. Seperti biasa, senyumnya di pagi hari adalah sarapan terbaik yang pernah ada. Asupan gizi sempurna untuk para pemuja sosoknya.         “ Pagi juga “         Dan seperti biasanya juga, jawabanku untuk sapaan manisnya hanya seadanya.       Tapi, sepertinya ada yang berbeda dari senyumnya pagi ini. Terlihat lebih ceria dan ada aura bahagia terasa darinya.         “ Oia, pulang sekolah nanti, aku bisa bicara sebentar? “        Aku menghentikan langkah dan mengajukan pertanyaan pada perempuan itu. Dia tampak heran tapi dia dengan mudah menjawabnya.        “ Tentu saja “        “ Oke, sepulang sekolah “ ~~~    ...

Sayang?

Sayang? Iya sayang? Eh baper... Hmm anak muda jaman sekarang ya, susah buat gak kebawa perasaan kalau denger kata 'sayang' sayup-sayup mengisi ruang udara di sekitarnya. Atau enggak, baca chat dari orang yang nulis 'tayang' aja bisa baper. Hft.. Tapi gak itu sih intinya semua ini. Semua ini intinya bukan itu sih. Tapi ya emang bukan itu intinya sih. Yaudah geh.. Ah, sayang ya? Bilangnya sayang tapi jarang nanya kabar. Bilangnya sayang tapi nelfon aja susah. Bilangnya sayang tapi lebih tahan chat sama gebetan ketimbang orang yang katanya di- 'sayang'. Wes, maksudnya sayang karo sopo iki? Sama Ayah dan Mama. Dua manusia yang menjadi perantara Yang Maha Kuasa untuk merawat, mendidik, menyayangi, mengasihi, kadang memarahi, memberi uang jajan, menyuapi makan sarapan, makan siang, hingga malam waktu kita masih kecil dan belum bisa apa-apa. Banyak ya, banyak banget malah hal-hal yang mereka lakukan buat kita yang kita mungkin gak sadar mereka ngelaku...

Bukan Awan #5

“ Gue kalah, Dan “             Aku mengadu pada sobatku satu-satunya di sekolah. Panjang lebar aku menceritakan kejadian yang aku alami kemarin.             “ Elu sih kebanyakan diem. Ya cewek juga males kali, bro, nunggu kelamaan..             .. apalagi saingan lu sekelas kak Awan “             Aku diam. Mencerna kalimat yang keluar sekonyong-konyongnya dari mulut Danu. Kalimatnya sederhana tapi ‘ kena ‘ bagiku.             “ Saingan gue bukan sekelas kak Awan, tapi emang kak Awan “ aku menjawab kalimatnya. “ Sial, maksud gue juga gitu. Eh tapi gue belum denger kabar kalau Bintang udah jadian tuh. Elu belum kalah, sob. Masih ada kesempatan “ sambung Danu untuk kalimat menyakitkan sebelumnya. ...

Bukan Awan #4

“ Lang, kamu mikir apa yang aku pikirin gak? “          Perempuan ini menatapku dengan tatapan serius. Seperti berharap jawaban ‘ iya ‘ keluar dari mulutku. Yang akan mensugestinya dan si awan kecil itu akan mendatanginya jika hari hujan.         “ Jangan terlalu berharap. Kadang apa yang kita harapkan malah gak kejadian “         “ Aku gak berharap. Aku cuma bayangin kalau beneran kejadian. Bayangin aja aku udah seneng, apalagi bener-bener kejadian “ katanya sambil memandang lurus ke arah lapangan di depan kami. Senyumnya masih mengembang. Sepertinya dia mulai berimajinasi.        “ Eh iya, aku masuk kelas duluan ya, Lang. Makasih udah mau senyum dan ngerespon ocehan aku “         “ Iya, anytime “         Dia tersenyum dan aku mempersilakan dia pergi dengan senyum s...